Friday, August 5, 2016

Kuliah Sastra, mau jadi apa?


"Wah udah kuliah ya? Di mana?"
"PTN"
"Wah kereeen, jurusannya apa?"
"Sastra"
"Oh hehehe bagus bagus"

"Kuliah jurusan apa?"
"Sastra"
"Kok ambil Sastra, besok kerjanya jadi apa?"

Aku sering banget dapet pertanyaan semacam itu, dan sampe nggak bisa dihitung berapa jumlah orang yang tanya hal semacam itu ke aku wkwk. Kalau kamu mahasiswa/i Sastra, pasti juga pernah dapet pertanyaan semacam itu. Orang-orang biasanya udah berasumsi kalo lulusan Sastra itu suram, cenderung anti-pemerintah, anak-anaknya kumel, anak-anaknya kacamatanya tebel-tebel, dsb. Ah ga juga, yang kata orang-orang kalo "lulusan Sastra biasanya bakal jadi provokator massa buat anti-pemerintah" iya, itu dulu jaman pak Harto. Atau kalau kamu baru aja lolos ke PTN di jurusan Sastra, SELAMAT! Akan ada banyak sekali hal-hal yang nanti bakal dipelajari. Dulu pas aku baru lolos ke PTN dan jurusan Sastra Jawa, aku mikirnya kalo kuliahku nanti sepenuhnya tentang Kejawen, budaya, dsb. Ternyata enggak, Sastra Jawa luas sekali cakupannya. Sampe aku pernah mikir kalo jurusanku kan Sastra spesialis bahasa Jawa tapi kami ada juga lho mata kuliah bahasa Bali, Sunda, Arab, Sanskrta, Belanda, Inggris, dan bahasa Jawa Kuna. Menurutku yang paling susah itu bahasa Jawa Kuna (lho kok bisa?!) ya bisa, belum lagi juga harus belajar aksara-aksaranya, aksara bahasa Jawa Kuna beda sama aksara Jawa yang ada di buku pelajaran selama SD-SMA loh. Bahasanya juga bikin melambaikan tangan ke kamera, aku semester 4 kemarin dapet mata kuliah TELAAH NASKAH JAWA KUNA DAN TENGAHAN dan baru kali ini aku dapet nilai 6 di UTS sejak semester I, tapi Alhamdulillah bukan Sekarlet namanya kalo IPKnya nggak cumlaude (--,)r

Terus kami juga ada mata kuliah lain, misalnya Karawitan, Pranatacara (MC), Nembang, dll yang praktikal, dan FYI aja di fakultasku, jurusanku paling kaya sendiri KATANYA huahahaha, kami ada lab Gamelan yang gedenya 2x lab bahasa Inggris, sama lab Filologi khusus buat belajar mengenai dunia pernaskahan. Oh iya, kami nggak cuma belajar soal naskah-naskah kuna Jawa, kami juga belajar aksara Pegon, dan aksara-aksara lain kayak yang kusebutkan tadi. Jadi dulu di semester 2 udah dituntut mahir baca teks-teks naskah Kuna. Nggak jarang juga di antara kami banyak yang silindernya tambah, minusnya tambah (termasuk aku) gara-gara sering baca naskah-naskah Kuna tadi.

Mengenai peluang kerja lulusan Sastra Jawa, ada banyak sekali. Kamu bisa jadi:
- guru
- PNS (kerja di RRI, lembaga pemerintahan, Balai Bahasa, Perpustakaan Nasional, dsb)
- Filolog (gajinya seorang filolog yang udah sering dapet panggilan buat jasa, melebihi gaji seorang pegawai bank dalam sebulannya)
- dosen
- kerja di museum
- dalang (aku ada 2 dosen yang udah jadi dalang Nasional, mereka sangat mengagumkan dan hebat banget)
- freelancer (pambiwara, penyanyi, penari, dsb)

Temen-temenku banyak lho yang jadi freelancer, jadi mereka udah keitung sukses karena sering dapet job di mana-mana, ada yang jadi MC (Pambiwara), penyanyi keroncong, sinden, penari tradisional. And you know upah mereka berapa sekali dipanggil? Yang jelas cukup buat makan selama Seminggu.

Karena sekarang yang paham mengenai bahasa Jawa semakin berkurang bahkan hampir nggak ada, jadi kami semakin merasa dibutuhkan orang banyak. Contohnya provinsi Jawa Timur sejak pemerintahan pak Harto dulu butuh guru Bahasa Jawa sebanyak 6000-an guru, sampai sekarang belum terpenuhi sama sekali. 

Kakak-kakak kelasku juga banyak yang udah jadi orang sukses. Tau Balai Bahasa Jawa Tengah? Kepalanya adalah lulusan Sastra Jawa UNS loh. Tau Perpustakaan Nasional Bung Karno di Blitar? Kepalanya adalah lulusan Satra Jawa UNS juga. 

Oh soal Filolog tadi, gajinya gede banget. Sering ada orang dateng ke jurusanku buat minta tolong ke siapapun buat nerjemahin pikukuh (akta yang ditulis dalam Aksara Jawa) ke dalam bahasa Indonesia, karena jaman dulu orang-orang desa belum tau bahasa Indonesia, jadi dokumen-dokumen biasanya ditulis pake Aksara daerahnya masing-masing, and you know selembar bisa dihargai berapa? Rp. 500.000 untuk selembarnya rata-rata, bahkan bisa lebih, dan untuk keabsahannya, terjemahannya diberi stempel jurusan Sastra Jawa universitasku. Bayangin sebulan ada 10 orang yang nyariin, dapet uang berapa? Belum lagi kalo 1 orang bawa  lembar, dapet berapa?

Selain itu juga bisa buka jasa, semacam konsultan jadi kalau di Jawa, orang menikah, bangun rumah, dan lain-lain harus menentukan hari baik, dan itu namanya Primbon, di kuliahku dipelajari juga (keren kan hahaha), bisa tuh ilmunya dijual. Contohnya di salah satu museum di Solo, di sana ada bapak-bapak petugas perpustakaan yang melayani konsultasi mengenai Jejawaan, sekalinya konsultasi? Minimal Rp. 50.000. Padahal dalam sekali ada lebih dari 3 orang yang konsultasi (dulu pernah sampe antri di luar perpustakaan saking penuhnya -_- padahal mau penelitian naskah). Udah nyaingin dokter kan...

Oiya aku juga suka belajar tentang mitos-mitos, folklore, dll. Kalo seputar mitos biasanya masuknya makul Sastra Mistik, kalo Folklore suka banget sama pikniknya wkwkwk jadi kami ke suatu daerah yang punya cerita rakyat turun-temurun yang masih eksis, dan kami menguak cerita tersebut, membanding-bandingkannya antara sumber satu dengan sumber yang lain, dan disimpulkan.

Pokoknya masuk Sastra itu enak, nggak enaknya ya harus ngapalin aksara-aksaranya T_T sekiaaaan, matur nuwun.

3 comments:

Norafifah Roshman said...

saya masuk bidang komunikasi juga banyak yang mempersoalkan :) btw, lama tak jenguk blog lettha ^_^ have a nice day and good luck!!

Rasya SA said...

kak letthaa halo x") tahun ini akhirnya saya mulai kuliah trus minat saya juga ke sastra. padahal belum tentu diterima tapi yang tanya saya mau ambil jurusan apa sudah ada yang tanya balik bakal jadi apa ;; sukses ya kak x))

Pesona lokal said...

http://www.sastrawacana.com/2017/08/lulusan-sastra-mau-kerja-apa-jawab.html